Friday, 6 October 2017

Bisnis Online Gerogoti Pasar Konvensional

Liputan6.com, Jakarta Satu per satu gerai atau toko ritel lokal maupun asing tumbang. Beberapa perusahaan pun di ambang kebangkrutan. Mulai dari 7-Eleven, Matahari Departement Store, Nyonya Meneer, sampai yang terbaru raksasa ritel mainan global Toys "R" Us yang terlilit tumpukan utang.
Ekonom sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Firmanzah menilai, ekonomi dunia saat ini berada pada fase transformasi bisnis yang cukup radikal. Transformasi ini mengarah pada teknologi yang membawa perubahan besar sehingga fenomena runtuhnya bisnis konvensional terjadi di dalam maupun luar negeri.

"Ekonomi dunia sekarang berada pada transformasi bisnis yang radikal. Di kurva ekonomi, tidak lagi moving along to curve, tapi ke shifting (pergeseran). Yang membuat shifting adalah teknologi, sehingga mengubah proses bisnis yang terjadi saat ini," katanya saat dihubungi Liputan6.com, Jakarta, Rabu (20/9/2017).

Firmanzah menjelaskan, kehadiran teknologi informasi maupun komunikasi telah membabat keberadaan toko ritel konvensional yang selama ini menjadi perantara antara produsen dan konsumen, seperti supermarket, hypermarket. Tak heran, toko online (e-commerce) semakin menjamur.

Lanjutnya, toko online tumbuh subur karena didukung berbagai faktor, di antaranya biaya internet yang murah, penetrasi ponsel pintar (smartphone) yang cukup tinggi di masyarakat, sistem logistik yang semakin andal, sistem pembayaran terpercaya.

"Faktor-faktor ini yang meningkatkan transaksi e-commerce. Bahkan ada yang menyebut, e-commerce kita akan mendominasi penjualan ritel pada periode 2030," ucap mantan Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia itu.

Firmanzah mengaku, keberadaan teknologi pun sudah menguasai sektor perbankan. Data terakhir di Eropa menyebut, ada sekitar 45 ribu kantor cabang bank ditutup karena perubahan pola nasabah dalam bertransaksi maupun mencari informasi. Semua tergantikan oleh internet banking, dan layanan online perbankan lainnya.

"Di Indonesia pun sudah jarang kan ke kantor cabang, sehingga transaksi internet banking melonjak tinggi. Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun mendorong cashless society berbasis teknologi," tuturnya.

"Ada yang menyebut destruktif, dislokasi, tapi saya bilang ini adalah tranformasi bisnis yang cukup radikal," tegas Firmanzah.

Perusahaan Harus Ubah Strategi demi Bertahan di Era Digital

Liputan6.com, Jakarta Teknologi informasi dan komunikasi akan menggilas perusahaan yang enggan berbenah mengikuti perkembangan zaman. Untuk bisa bertahan di tengah era digital, perusahaan harus mampu menghadapi arus perubahan melalui strategi khusus.

Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Rhenald Kasali, memberikan kiat agar perusahaan dapat memenangkan persaingan yang semakin ketat, termasuk dengan maraknya bisnis online yang mulai mengambil "kue" bisnis konvensional.

"Disruption (gangguan) ada dua, karena digital dan nondigital. Dia menciptakan dua pasar, yakni pasar baru dan pasar kelas bawah (low end market)," kata Rhenald saat dihubungi Liputan6.com, Jakarta, Kamis (21/9/2017).

Strategi pertama, tutur Rhenald, lakukan self disruption dengan mengganti cara kerja secara revolusioner. Mengubah produk dan membangun sistem online untuk menghubungkan perusahaan dengan pasar, serta memperbaiki struktur biaya maupun proses bisnis.

Kedua, lakukan kolaborasi dengan bisnis-bisnis baru yang sudah berkembang atau mulai tumbuh di pasar. Carilah pola kerja sama yang dapat memangkas biaya. Ketiga, melatih semua jajaran eksekutif untuk memahami makna disruption dan membongkar pola pikir (maindset) mereka.

"Terakhir, refokus segmen. Periksa di mana segmen yang masih terbuka dan tercipta dalam waktu cepat. Mana yang sudah ditinggalkan, mana yang mengecil. Reformulasikan kembali strategi tanpa harus menunggu akhir tahun," ujarnya.

Terpisah, ekonom sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Firmanzah, mengatakan, di tengah gempuran teknologi yang berkembang cepat dan menjamurnya toko online, perusahaan dituntut untuk berinovasi serta mengikuti perkembangan zaman. Tidak melulu terpaku pada gaya lama, sehingga konsumen lari mengikuti perubahan pola konsumsi.

"Selain teknologi, faktor lain juga ada penurunan daya beli. Masyarakat cenderung mencari barang lebih murah, sehingga mempengaruhi pola konsumsi. Yang tadinya masih menerima kemahalan, sekarang mencari kanal baru yang menawarkan harga lebih murah," jelas Firmanzah.

Menurut dia, langkah pertama perusahaan harus mengevaluasi strategi bisnis. Artinya mengikuti perkembangan tren saat ini, baik itu target pertumbuhan dan rencana investasi yang tentunya melibatkan teknologi.

Kedua, lanjut Firmanzah, keputusan menggunakan teknologi proses bisnis harus diiringi dengan kemampuan karyawan untuk melek teknologi, seperti menggelar pelatihan, workshop, maupun banchmarking agar kompetensi karyawan meningkat dalam penggunaan teknologi. 

"Apa yang dialami Toys "R" Us karena mereka terlambat membaca peluang bahwa masa depan pendapatannya tergerus dengan e-commerce. Sedangkan Matahari mulai membaca atau intuisinya mengarah pada pengembangan toko online-nya, sehingga melakukan efisiensi dengan menutup dua gerai," ujarnya.

Bos Indofood Ramal Distributor Bakal Lenyap Tergilas Teknologi

Liputan6.com, Jakarta - Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), Franciscus Welirang meramal distributor maupun grosir atau agen perdagangan bakal hilang tersapu perkembangan teknologi ke depan. Untuk tetap bertahan, perantara dagang ini perlu mengantisipasi arus perubahan tersebut.

"Kami membaca usaha apa sih yang akan hilang? Perdagangan. Apa yang terjadi dengan distributor dan grosir? Pasti ada distruptif (gangguan)," kata Fransiscus atau akrab disapa Franky saat acara Peringatan Hari Statistik Nasional di kantor BPS, Jakarta, Selasa (26/9/2017).

Dia menilai, keberadaan grosir dan distributor yang selama ini menjadi perantara dagang antara produsen dan konsumen itu akan hilang. Sementara industri dan warung-warung kelontong yang menjual sembako dan barang lainnya tetap akan ada.

"Industri akan tetap ada, warung pun demikian. Di tengahnya ini (distributor dan grosir) terjadi distruptif karena perkembangan teknologi dan kemajuan infrastruktur," ujar Franky.

Franky menuturkan, distributor maupun grosir yang akan bertahan di tengah deru teknologi adalah mereka yang bisa beradaptasi dengan perkembangan ini.

"Kalau tidak berubah jadi logistik, mereka (agen) akan hilang. Jadi ada usaha yang akan hilang besok atau lusa, kalau usaha itu tidak menyesuaikan diri dengan tuntutan ke depan," ujar dia.

Di Indofood, Ia menuturkan, ikut berubah seiring kemajuan teknologi. "Kami harus membaca platform ke depan. Artinya ada perubahan, tidak bisa seperti dulu. Kami harus berubah, berubah budayanya. Itu memang tidak mudah, dan ini tantangan kami," ujar Franky.